HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Pusri Jajaki Pembangunan Pabrik Pupuk Organik

17 Desember 2007 Tim pengembangan jaringan PT Pusri tersebut antara lain beranggotakan Ir Parisin Udus (Pimpro Pembangunan Pabrik Pupuk Organik Pusri), kemudian Ir Irwan Aziz (Kepala Divisi Pemasaran Pusri) serta Priyono (Kepala Bidang Teknik Pusri). Pertemuan yang semula direncanakan langsung dengan Walikota, terpaksa dilakukan bersama Asisten II serta kepala SKPD bersangkutan karena sibuknya agenda kepala daerah. Menurut Pimpro Pembangunan Pabrik Pupuk Organik Pusri, Parisin Udus, rencana pembangunan ini memiliki multiflier efek bagi kondisi Bukittinggi yang sedang dalam dilema oleh persoalan sampah. Sehingga PT Pusri Palembang menawarkan konsep pembangunan pabrik pupuk organik, yang memiliki kapasitas produksi pupuk organik setiap hari mencapai 10 ton.

?Untuk menciptakan 10 ton pupuk organik setiap hari, diperlukan bahan baku sampah basah mencapai 20 ton perhari. Jika sampah Bukittinggi setiap hari diperkirakan mencapai 100 ton, maka akan sanggup diproduksi sekitar 40 ton pupuk, dengan kehadiran 4 unit mesin pabrik,? ungkap Parisin Udus. Untuk rencana pembangunan pabrik itu sendiri, sambung Priyono selaku Kepala Bagian Teknik PT Pusri Palembang, terdapat sejumlah alterbatif yang dapat dikerjakan. Di antaranya dengan upaya PT Pusri sendiri membangun pabrik melalui mekanisme izin dari Kementerian BUMN, atau sistem Francaise serta kerjasama pemerintah Bukittinggi dengan pihak ketiga. ?Berbagai alternatif tadi memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, tapi dapat dilakukan sesuai perencanaan dan pemikiran yang matang. Jika diserahkan kepada PT Pusri dengan menunggu izin Menneg BUMN tentu akan panjang prosesnya.

Tapi apabila dikelola dengan sistem Francaise, dapat dilaksanakan secepat mungkin dengan dukungan pemerintah dan pihak ketiga,? ungkap Priyono. Menurut Kepala Dinas Pertanian Bukittinggi, Hasnil Syarkawi, rencana ini sedang dalam tahap pembicaraan di tingkat Pemko sendiri bersama PT Pusri Palembang. Terutama dalam memutuskan dan menetapkan sistem kerjasama yang paling tepat, sehingga ke depannya dapat sama-sama menguntungkan kedua belah pihak. ?Kita masih menunggu kebijakan dan keputusan sistem kerjasama ini, sehingga selain dapat bernilai ekonomis dengan hadirnya pabrik pupuk organik tadi, juga dapat menanggulangi persoalan sampah di Bukittinggi ke depan,? ungkap Hasnil. (ari)