HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Pertamina Gaet Pusri dan ITB Bikin Kilang Pengolahan Green Diesel

05 Maret 2020
TEMPO.CO, Bandung - Vice President Planning and Commercial, Reasearch and Tecnhology Center, PT Pertamina, Andianto Hidayat mengatakan, Pertamina akan menguji penggunaan katalis hasil riset bersama ITB dengan membangun kilang pengolahan atau refinery untuk memproduksi green diesel.
 
“Ini teknologinya benar-benar desainnya dari Indonesia, ITB dan Pertamina benar-benar mendesain ini dari pemikiran-pemikiran dalam negeri, tanpa licensing atau alat-alat yang di impor. Ini 100 persen karya anak bangsa,” kata dia di kampus ITB, Bandung, Rabu, 4 Maret 2020.
 
Andianto mengatakan, teknologi yang digunakan adalah teknologi katalis yang dikembangkan Pertamina bersama ITB. Teknologi tersebut tahun ini akan memasuki skala demo, yakni pengujian teknologi dengan membangun kilang mini untuk mengolah CPO menjadi green diesel.
 
“Kami yang meneliti teknologi katalisnya, dan juga prosesnya bersama ITB, maka ini merupakan demo dari apa yang kami siapkan. Namanya sebuah penelitian, mulai dari bassic-science itu akan naik ke TRL8, kita harus menguji skala demo,” kata dia.
 
Andianto mengatakan, kilang skala demo untuk pengolahan CPO tersebut akan dibangun di fasilitas produksi pupuk milik PT Pupuk Sriwijaya di Sumatera. Fasilitas produksi milik Pupuk Sriwijaya dipilih karena teknologi pengolahan CPO tersebut membutuhkan gas hidrogen yang akan dipasok oleh pabrik pupuk tersebut.
 
“Posisi di Pusri (Pupuk Sriwijaya) karena di sana ada akses hidrogen. Untuk proses ini kita memerlukan gas hidrogen. Jadi mata rantainya, minyak kelapa sawit itu, asam lemak kemudian asam-asam larutan kimianya itu akan di convert menjadi hidro karbon,” kata dia.
 
Menurut Andianto, pembangunan kilang skala demo itu akan dikerjakan oleh PT Rekayasa Industri (Rekind), anak perusahaan Pupuk Sriwijaya. Rencananya pada tahun ini akan dibangun kilang skala demo tersebut. “Tahun 2021 akan beroperasi, dan kita akan trial-run sekitar 6 bulan,” kata dia.
 
Andianto mengatakan, Rekind juga berminat masuk menjajaki bisnis baru yakni pembagunan kilang. “Dia ingin membangun kilang. Dari hasil energi yang kami buat, diterjemahkan ke dalam fisik oleh Rekind,” kata dia.
 
Andianto mengatakan, kilang skala demo tersebut rencananya akan mempunyai kapasitas pengolahan 1.000 liter green diesel sehari, dengan bahan baku 200-300 ton CPO per hari. Produk akhirnya tidak tebatas pada green diesel, tapi juga bisa berupa green gasoline, hingga green avtur. “Persis sama dengna kilang minyak. Hasil produksinya sudah siap langsung digunakan ke dalam tangki bahan kendaraan,” kata dia.
 
Menurut Andianto, pengujian kilang skala demo ini akan menentukan langkah Pertamina selanjutnya. Pengujian tersebut meliputi kehandalan katalis, dan teknologinya. Pembangunan kilang skala demo ini, menjadi langka penentu agar teknologi tersebut masuk pada skala produksi. “Kalau sudah terbukti handal di skala model. Kita akan buat skala sebenarnya yakni stand-alone-refinery yang kapasitasnya 20 ribu barrel per hari,” kata dia.
 
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arifin Tasrif menyaksikan penandatanganan kerja-sama antara Pertamina, ITB, dan Pupuk Sriwijaya di kampus ITB di Bandung. Penandatanganan kerja-sama tersebut dilakukan setelah Arifin mengisi kuliah umum di kampus tersebut, Rabu, 4 Maret 2020. “Ini salah satu alternatif yang harus kita dorong terus, sehingga bio-renewable ini kelak bisa menggantikan energi fuel dari hidro-karbon,” kata Arifin.
 
Arifin mengatakan, penggunaan green diesel tersebut diharapkan bisa diterapkan untuk menghemat devisa negara, dari impor solar. “Kita akan bangun kilang bahan bakar nabati,” kata dia.


Sumber : https://bisnis.tempo.co/read/1315638/pertamina-gaet-pusri-dan-itb-bikin-kilang-pengolahan-green-diesel