HALO PUSRI 0800-12-000-11
Media Massa

Antsipasi Masalah Ketersediaan Gas, PT Pusri Lirik Blok Saka Kemang

10 Desember 2019
KBRN, Palembang : PT Pusri menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi permasalahan ketersediaan pasokan gas bumi yang kini tengah dialami oleh sejumlah pabrik pupuk di Indonesia. Meski pasokan gas yang dimiliki hingga saat ini tercukupi, namun untuk jangka panjang persoalan gas dianggap dapat menjadi ancaman serius.

Sekretaris PT Pusri, RA Rahim, mengungkapkan PT Pusri membutuhkan 220 MMSCFD gas bumi setiap tahunnya guna memastikan empat pabriknya tetap beroperasi. Untuk kebutuhan gas sebesar itu, PT Pusri menerima pasokan dari Pertamina EP (140 MMSCFD) , Conoco Philips (70 MMSCFD) dan dari PT Tropic Energy Pandan (10 MMSCFD).

Rahim mengatakan, pasokan gas PT Pusri dipastikan aman hingga tahun 2023 seiring berakhirnya masa kontrak dengan ketiga pemasok tersebut. Namun, untuk masa kontrak lima tahun berikutnya muncul permasalahan karena berkurangnya cadangan gas yang diproduksi oleh Pertamina EP sebagai pemasok terbesar PT Pusri.

“Kami menerima info bahwa di Pertamina EP cadangan gasnya agak decline, jadi kemungkinan pasokan ke kami akan berkurang. Tapi kemungkinan untuk perpanjangan kontrak tetap ada hanya saja jumlahnya berapa belum dapat dipastikan,” ujar Rahim kepada RRI di Palembang, Selasa (10/11/2019).

Menurut Rahim, pihaknya belum dapat memastikan perpanjangan untuk lima tahun kedepan karena pembicaraan terkait perpanjangan kontrak baru akan dibicarakan satu tahun jelang berakhirnya masa kontrak. Meski demikian, untuk memastikan produksi tetap berjalan PT Pusri telah menyiapkan alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan gas mereka.

“Ada sumber baru yang di Saka Kemang Koridor yang cadangan gasnya nomor 4 paling besar di dunia saat ini dengan cadangan gas mencapai 2 triliun Kaki Kubik (Tcf). Saat ini kami kami sedang jajaki kerja samanya untuk menutupi bila nanti ada kekurangan pasokan,” bebernya.

Tidak hanya soal pasokan, Rahim menilai masalah lain yang perlu dibenahi adalah harga gas untuk pupuk yang dinilai masih terlalu tinggi. Padahal, gas bumi adalah bahan baku utama untuk produksi pupuk urea dengan komposisi mencapai 70% dari total biaya produksi.

“Saat ini harga gas yang ditetapkan Jadi kalau harganya makin tinggi otomatis biaya produksi makin besar. Ini salah satu faktor yang membuat kita sulit bersaing. Mungkin ini juga perlu mendapatkan perhatian khusus,” pungkasnya.


Sumber:http://rri.co.id/post/berita/757089/ekonomi/antsipasi_masalah_ketersediaan_gas_pt_pusri_lirik_blok_saka_kemang.html