Kabar Pusri

REVITALISASI INDUSTRI PUPUK: LANGKAH PUPUK INDONESIA JAGA KETAHANAN PANGAN

27 September 2025

cover

Di balik suburnya lahan pertanian Indonesia, terdapat pekerjaan besar yang tak terlihat: memastikan pupuk tersedia tepat waktu dan dengan harga yang terjangkau. PT Pupuk Indonesia (Persero), sebagai pemain utama dalam industri ini, tengah menghadapi tantangan yang tak sederhana. Sebagian besar pabriknya telah berusia puluhan tahun dan tak lagi seefisien dulu.

 

“Ke depan kami akan melakukan revitalisasi, karena pabrik-pabrik kami sudah tua. Kami sudah lama tidak melakukan pembangunan pabrik sejak tahun 2003,” ujar Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, dikutip SWA.co.id (27/9/2025). Ucapannya menggambarkan urgensi yang sedang dihadapi perusahaan pelat merah tersebut.

 

Rahmad mencontohkan kondisi pabrik Urea yang menjadi andalan perusahaan. Dari total 15 pabrik yang dimiliki, delapan sudah beroperasi lebih dari tiga dekade. Akibatnya, konsumsi gas untuk memproduksi satu ton Urea mencapai angka yang tak lagi ideal.

 

“Untuk Urea saat ini rasio konsumsi energi kami tinggi sekali, rata-rata rasio konsumsi gas itu adalah 28 MMBTU per ton Urea,” jelasnya. Untuk pabrik yang berusia di atas 30 tahun, angka itu bahkan bisa melonjak hingga 32,2 MMBTU per ton, jauh di atas standar global.

 

Kondisi tersebut membuat biaya produksi membengkak, yang pada akhirnya berpengaruh pada keterjangkauan harga pupuk bagi petani. Padahal, pupuk adalah salah satu kunci ketahanan pangan nasional.

 

“Pak Prabowo menempatkan bahwa ketahanan pangan sebagai sebuah fundamental utama dan kami sangat bersemangat untuk bisa terus mendukung ketahanan pangan nasional,” kata Rahmad.

 

Revitalisasi pabrik pun menjadi prioritas utama. Pupuk Indonesia menargetkan konsumsi gas bisa ditekan menjadi 25 MMBTU per ton Urea pada 2035. Efisiensi energi ini diharapkan memberi dampak ganda: menurunkan biaya produksi sekaligus menjaga harga pupuk agar tetap bersahabat bagi petani.

 

Langkah nyata sudah dimulai. Melalui anak perusahaan PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri), Pupuk Indonesia sedang membangun Pabrik Pusri IIIB. Pabrik ini akan menggantikan fasilitas lama yang sudah uzur.

 

Direncanakan selesai pada 2027, pabrik baru tersebut dirancang untuk memangkas konsumsi gas dari 32 MMBTU per ton menjadi hanya 21,7 MMBTU per ton Urea. Efisiensi ini diperkirakan bisa menghemat biaya produksi sekitar Rp1,5 triliun setiap tahun.

 

“Kami sedang membangun satu pabrik bernama Pusri IIIB yang akan menggantikan pabrik yang sudah tua. Keberadaan pabrik ini akan menjadikan Pusri sebagai perusahaan pupuk tertua, tetapi dengan rata-rata umur pabrik yang paling muda dan paling efisien,” ungkap Rahmad dengan nada optimistis.

 

Bagi Pupuk Indonesia, revitalisasi bukan sekadar proyek fisik membangun pabrik baru. Ini adalah upaya strategis yang menyentuh hulu hingga hilir, dengan tujuan jangka panjang: memastikan kebutuhan pupuk petani terpenuhi secara konsisten. Proses ini menuntut sinergi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pemasok energi, hingga komunitas petani itu sendiri. (*)

 

Sumber : https://swa.co.id/read/464252/revitalisasi-industri-pupuk-langkah-pupuk-indonesia-jaga-ketahanan-pangan

Layanan Pelanggan Report Governance Public Info FAQ